Belajar Menderita


    


Tugas Ilmu Budaya Dasar 3
 Tema : Manusia dan penderitaan
 Ditulis Oleh : Rizki Arima




            Cahaya fajar telah menembus sela sela dinding rumahku, menandakan bahwa hari telah pagi dan sudah waktunya aku memulai aktifitasku hari ini, perkenalkan namaku herman, anak laki laki biasa yang berusia 15 tahun, sudah menjadi rutinitasku untuk bangun pagi pagi sekali karena ada pekerjaan yang harus ku kerjakan. Dengan membawa alat alat yang setiap hari menemaniku menjalani aktifitasku aku bergegas untuk berkeliling komplek untuk mengumpulkan botol botol plastik yang nantinya bisa kutukar dengan uang receh, ya .. inilah pekerjaanku sehari hari, yaitu menjadi pemulung, tak apalah menjadi pemulung setidaknya aku dapat mengumpulkan uang yang halal walaupun penghasilanku hanya dapat ditukarkan dengan 1 bungkus nasi beserta lauk yang sedapatnya.

        Sudah 3 tahun aku menekuni pekerjaan ini, semenjak putus sekolah saat kelas 6 SD dikarenakan kekurangan biaya, aku berinisiatif untuk membantu orang tuaku mencari nafkah, tidak ada lagi yang bisa kulakukan karena tidak ada keahlian apapun yang aku punya selain memungut dan memilih botol botol plastik, seringkali ketika sedang berjalan mengelilingi komplek aku melihat anak anak seusiaku dengan seragam sekolah lengkap beramai ramai dengan wajah mereka yang bergembira menuju tempat menuntut ilmu, rasa malu yang dahulu amat sangat kurasakan juga sudah tidak terasa lagi bagiku, ya mau bagaimana lagi , Tuhan pasti punya alasan dibalik penderitaan ini. Namun sering kali aku mengeluh kepada Tuhan mengapa aku dilahirkan di keluarga yang miskin dan tidak bisa bersekolah sebagaimana anak anak seumuran ku yang lain, aku selalu berandai andai sangat senang rasanya jika hidup mewah, semua yang aku inginkan akan terpenuhi namun itu hanya sebatas di mimpiku saja.
             Hari pun mulai senja, sungguh tidak terasa dari matahari terbit sampai matahari terbenam aku berkeliling komplek hanya untuk mencari sesuap nasi. Pukul sudah menunjukan pukul 17.00, sudah saatnya aku kembali ke rumahku karena orang tuaku sudah menunggu sejak tadi, sesampainya dirumah, kuletakan botol botol hasil pungutanku hari ini dan biasanya akan kujual ketika sudah banyak yang terkumpul, ibu dan bapakku juga sama sepertiku, mereka sehari hari memulung namun terkadang ibuku menjadi tukang cuci di rumah tetangga jika ada yang membutuhkan jasa nya. Tempat tinggal kami pun lebih pantas dijuluki Gubug dari pada rumah, ya .. keluarga kami memang serba kekurangan, namun dibalik kekurangan itu suasanya kekeluargaan di rumah yang sederhana ini sangatlah erat, dengan disuguhi secentong nasi putih dan tempe goreng oleh ibuku, kami makan dengan penuh rasa syukur atas segala yang telah Tuhan berikan kepada kami.
            Keesokannya seperti biasa aku memulai aktifitasku sebagai pemulung di komplek, namun ketika aku sedang mencari botol botol plastik di salah satu rumah di komplek tersebut, seseorang anak perempuan keluar dari rumahnya dengan membawa kantung plastik besar ditangannya dan menghampiriku, jika dilihat dari postur tubuhnya dia masih seusiaku.

Sasha : “Hai, boleh kenalan ga ? Namaku sasha”,
Herman : “ oh iy iya boleh, namaku Herman”, sahutku sedikit gugup
Sasha : “Kamu setiap hari yang ngambilin botol plastik kan ?, nih aku punya banyak botol plastik bekas buat kamu “, katanya sambil menyerahkan sekantung botol plastik kepadaku.
Herman : “ wah banyak banget sha, makasih banyak ya “
Sasha : “iya sama sama, besok besok kamu kesini lagi aja, nanti aku bawain banyak lagi “, sahutnya sambil tersenyum
Herman : “ serius nih ?, oke deh besok aku kesini lagi ya “
Sasha : “ Oke , aku tunggu ya besok, oh iya aku masuk dulu ya “
Herman : “iya sekali lagi makasih ya “,

            Sasha pun masuk kedalam rumahnya, rumah yang sangat besar dan mewah serta halamannya yang sangat luas, mungkin rumah seperti itu hanya sebatas di mimpiku saja, namun aku merasa senang mendapatkan teman baru, ya.. walaupun aku dengan Sasha sangat berbeda jauh, seperti langit dan bumi, Sasha adalah anak dari orang tua yang kaya dan tinggal di rumah yang mewah , sedangkan aku hanyalah anak dari seorang pemulung yang tinggal di Gubug tua yang terdapat lubang di segala sisinya. Hari ini aku pulang lebih awal karena botol plastik yang telah ku kumpulkan telah cukup banyak berkat bantuan Sasha tadi.
Keesokan harinya, seperti kataku kemarin hari, aku kembali ke depan rumah Sasha dan ternyata dia sudah menunggu di depan rumahnya dengan membawa 2 kantung besar botol plastik
Herman : “ eh udah lama ya sha ?, maaf ya kalo aku lama “, kataku meminta maaf
Sasha : “ iya gapapa ko man, nih aku bawain banyak botol plastik “. sambil menyerahkan kantung plastik besar tersebut
Herman : “ wah banyak banget ini sha, kamu dapet dari mana ? “. kataku sambil duduk disampingnya dan memasukan botol botol plastik tersebut kedalam tas karungku,
Sasha : “oh iya man, rumah kamu dekat sini ? “
Herman : “ iya sha, tuh di kampung belakang komplek “, kataku sambil membereskan botol botol plastik tersebut
Sasha : “ Kamu ga sekolah man ?, apa udah pulang sekolah ? “
Herman : “ Aku udah ga sekolah lagi sha, orang tuaku gk punya biaya buat aku sekolah, buat makan aja susah sha “
Sasha : “ Oh gituu “.
Herman : “ Enak pasti ya jadi orang kaya seperti kamu sha , pengen apa apa tinggal beli, gak kaya aku, bisa makan aja udah lumayan, berat banget penderitaan yang Tuhan kasih buat keluarga ku”
Sasha : “ Jangan gitu man, kamu harusnya banyak banyak bersyukur udah dikasih kesehatan ya walaupun penghasilan keluarga kamu pas pasan, yang penting halal man “. sambil tersenyum
Herman : ” ya tapi tetep aja sha, aku juga kan pengen ngerasain duduk di bangku sekolah lagi kaya teman temanku yang lain”. Kataku mengeluh
Sasha : “ Kamu sabar aja man, dibalik cobaan yang Tuhan berikan pasti ada imbalan yang lebih besar lagi ,lagian juga masih banyak ko anak anak yang lebih tidak beruntung dari kamu,yang ditinggal orang tuanya sejak lama, harusnya kamu lebih bersyukur bisa ngerasain dunia ini lebih lama lagi sampai kamu sukses nantinya hehehe “, katanya sambil tertawa

Aku dan Sasha mengobrol cukup lama, sudah seperti teman yang sudah kenal sejak lama, padahal aku dan sasha baru saja berkenalan kemarin hari,
Sasha : “ Eh man, aku masuk duluan ya, makasih ya udah mau nemenin aku ngobrol, hehehe “
Herman : “ Iya sha, eh ngomong ngomong ini makasih banyak ya botolnya , besok aku kesini lagi deh”
Sasha : “ Iya boleh deh, tapi aku gak janji ya man “,
Herman : “ Loh emang kamu mau kemana ? “
Sasha : “ Ada dehhh, aku masuk dulu ya, dahh “, sambil tersenyum kepadaku
Herman : “ Iya sha, makasih ya , dahh “, sahutku sambil tersenyum juga

Hari itu aku merasa sangat senang bisa mengobrol banyak dengan Sasha, dia sangat baik kepadaku, walaupun dia tau aku hanyalah seorang anak pemulung, aku segera pulang dengan semangat dengan membawa hasil mulungku hari itu. Keesokan harinya aku bergegas untuk pergi memulung lagi dan berencana untuk mampir ke rumah Sasha lagi,
Herman : “ Wah pasti dia udah nunggu nih, sebaiknya aku lebih cepat lagi “. kataku berlari menuju rumah Sasha

Setelah sesampainya di depan rumah Sasha aku pun terkejut, mengapa banyak sekali orang memakai baju hitam di rumahnya, perasaanku sudah tidak enak, aku segera masuk ke halaman rumah Sasha, tiba tiba seseorang mendatangiku dengan memakai pakaian serba hitam dan membawa selembar kertas dilengannya.
Bibi : “ den, kamu yang namanya Herman ya, temannya sasha ? “ katanya sambil menahan air matanya
Herman : “Iya bi, bibi siapa ya ? Sashanya mana bi ? “

Bibi : “ ini ada surat dari Sasha untuk aden “, sambil meberikanku kertas yang tadi dibawanya

Perasaanku sangat tidak enak, jantungku berdebar kencang saat membacakan surat tersebut






Depok, 19 Mei 2015



Sahabatku Herman,
Hai herman, masih ingatkan denganku ? Hehehe, pasti kamu bingung kenapa aku menulis surat buat kamu ya, maaf ya man aku tidak memberi tau kamu, sebenarnya aku terkena penyakit leukimia parah dan dokter memvonis hidupku hanya tersisa beberapa hari saja. Mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah meninggalkan dunia ini untuk selamanya, tapi kamu jangan sedih ya man, inget terus kata kataku yang kemarin aku bilang ke kamu ya untuk selalu bersyukur atas apapun yang tuhan berikan ke kamu, mungkin waktu kita sangat singkat untuk bisa menjadi teman di dunia ini, aku berharap bisa mengenalmu lebih lama lagi, namun aku bersyukur bisa kenal sama kamu man, maaf juga ya aku gak bisa ngasih botol plastik lagi ke kamu, aku yakin suatu saat nanti kamu bakal jadi orang yang sukses man , tetep tersenyum ya :)


Dari Sahabatmu

Sasha




Sungguh aku tidak dapat berkata apa apa lagi, seluruh tubuhku lemas tidak kuat menopang tubuhku untuk berdiri, air mataku yang tidak terbendung lagi menahan kesedihan yang amat sangat karena ditinggal oleh sahabatku, bibi pun membantu menenangkanku dan menceritakan semua tentang Sasha.
Ternyata Sasha adalah anak yatim piatu yang telah lama ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, dan diurus oleh bibinya selama ini dan juga telah lama pula divonis menderita penyakit leukimia parah dan diprediksi oleh dokter sisa hidupnya hanya pada bulan april kemarin, namun dia berhasil bertahan sampai bulan mei ini, aku teringat dengan semua perkataan Sasha padaku kemarin, untuk selalu bersyukur walaupun penderitaan yang kualami sangatlah besar, walaupun penderitaan yang dialami Sasha sangatlah banyak, namun dia tetap tegar menjalaninya, dan selalu tersenyum ketika mengobrol denganku seperti tidak ada beban yang dialaminya.
Aku mendapatkan pelajaran baru darinya, bahwa seberapa berat penderitaan itu ditentukan dengan seberapa banyak orang tersebut bersyukur atas apa yang telah diterimanya, semakin banyak dia bersyukur semakin sedikit pula penderitaan yang dia rasakan, semoga kamu tenang disana Sha, aku gak akan lupa tentang apa yang kamu ajarkan kepadaku, dan kamu bakal tetap jadi sahabatku walaupun kamu sudah tidak bisa lagi berada disampingku.
Previous
Next Post »