Naskah Supersemar yang Asli ?


        
    Sudah lebih dari setengah Abad silam Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret resmi ditandatangani oleh Presiden Soekarno. Supersemar bisa jadi merupakan mimpi buruk untuk Presiden Soekarno sewaktu itu, Kekuatannya, karismanya, semangatnya yang berapi-api seakan luntur oleh inflasi besar-besaran, harga sembako yang melambung, hingga mosi tidak percaya, Lahirnya SUPERSEMAR ini sekaligus menandakan berakhirnya Orde Lama, semua perjuangan bung Karno untuk membel Tanah Air harus ditutup dengan Status seorang tahanan karena dituduh ikut serta dalam gerakan G30SPKI, ditambah lagi dengan penyakit yang terus menggerogotinya,

Boleh jadi, menandatangani Supersemar adalah kesalahan besar bagi Bung Karno
Atau....
kesalahan besar yang ditujukan untuk Bung Karno? hahaha ...

Jika kita membahas lebih lanjut, kita akan banyak menemukan konspirasi - konspirasi yang menarik lainnya :), mari kita ulas

            Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu (Wikipedia)

            Namun hingga sekarang misteri dibalik Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar belum juga terpecahkan, Naskah asli Supersemar pun tidak pernah ditemukan, sebenarnya ada beberapa Versi Supersemar yang disimpan oleh ANRI ( Arsip Nasional Republik Indonesia, namun banyak keraguan mengenai keaslian ketiga naskah tersebut dan banyak yang mengatakan bahwa naskah yang berada di ANRI tersebut adalah PALSU, ketiga versi tersebut adalah :

1.  Yaitu surat yang berasal dari Sekretariat Negara. Surat itu terdiri dari dua lembar, berkop Burung Garuda, diketik rapi dan di bawahnya tertera tanda tangan beserta nama Sukarno.

2.  surat kedua berasal dari Pusat Penerangan TNI AD. Surat ini terdiri dari satu lembar dan juga berkop Burung Garuda. Ketikan surat versi kedua ini tampak tidak serapi pertama, bahkan terkesan amatiran. Jika versi pertama tertulis nama Sukarno, versi kedua tertulis nama Soekarno.

3.  versi ketiga, lebih aneh lagi. Surat yang terakhir diterima ANRI itu terdiri dari satu lembar, tidak berkop dan hanya berupa salinan. Tanda tangan Soekarno di versi ketiga ini juga tampak berbeda dari versi pertama dan kedua.

Kepala ANRI, M Asichin, memastikan ketiga surat itu adalah Supersemar palsu. Sebab, lazimnya surat kepresidenan, seharusnya kop surat Supersemar berlambang bintang, padi dan kapas.

            Segala upaya telah dilakukan oleh Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan mengenai Surat ini, bahkan berkali - kali meminta kepada sang Jendral (Purn) M. Jusuf, yang merupakan saksi terakhir hingga akhir hayatnya 8 September 2004 agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal.
            Sampai sekarang, usaha Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan presiden Soeharto. Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada 27 Januari 2008, membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap


Previous
Next Post »